Ini untuk perasaan yang ku pendam sejak dua tahun lalu dan untuk penyesalan terdalam di hidupku.
"Hai kenalin nama gue Garuda. Lo siapa?"
Itu awal mula kita berkenalan. Dia menjabat tanganku erat.
Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Bulan demi bulan berlalu.
Ada yang aneh. Kenapa jantungku jadi berdebar begini? Ah tidak mungkin aku jatuh hati terhadapnya. Dia terlalu sempurna bagiku. Bagaimana bisa gadis sepertiku mendapatkannya? Dia lelaki cerdas. Lihat saja sekolahnya. Dia bersekolah di sekolah ternama. Tidak seperti aku.
Aku pasti sudah gila. Saat dia menghapus tulisannya di bukuku, rasanya aku ingin menggengam tangannya. Aneh. Padahal dia hanya menghapus rumus yang dia salah tulis di bukuku. Dia memang begitu. Sering datang tanpa membawa buku.
Saat beberapa hari sebelum prom night di sekolahnya, aku mendengarnya bicara dengan temannya. "Kita ga boleh bawa cewek dari luar sekolah sih". Aku berharap gadis yang kamu maksud itu aku. Tapi mana mungkin? Ah beruntungnya gadis yang kau taksir itu. Gadis itu beruntung karena memilikimu.
Dia memang lelaki yang baik. Tak sepantasnya aku berharap ada yang lebih di antara kita. Namun semuanya berubah saat hari Rabu.
"Lo mau bareng gue? Gue bawa helm kok buat lo"
Seharusnya aku menjawab iya tapi aku malah meragu.
"Iya lah gue serius nawarin lo. Ayo bareng aja sama gue"
Bodohnya aku. Aku malah menolak ajakannya. Tunggu. Mengapa dia menjadi kaget saat aku mengatakan tidak? Ekspresinya terlihat kecewa saat aku menolak ajakannya. Mengapa dia membawa dua helm? Biasanya dia hanya membawa satu. Apakah dia sengaja untuk pulang bersamaku?
Hari Senin.
Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Temanmu masuk ke kelas dan bilang ke kakak itu kalau kamu sudah diterima di kedinasan. Seketika aku ingin menangis. Tapi hanya bisa aku tahan. Bodoh! Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Aaaaarrrghhh.
Selasa.
Semua teman di kelas membicarakanmu. "Masa gue di chat sama dia trus dia bilang semoga sukses ya". Lalu, teman yang lain pun bercerita kalau mereka di chat olehmu. Aku bingung. Mengapa aku tidak mendapatkan satu pesan pun darimu? Apakah waktu itu saat kau mengajakku pulang bareng adalah tanda perpisahan?
Seharusnya, aku tidak menolak ajakan itu.
Sungguh aku hanya ingin berjumpa denganmu lagi.
"Hai kenalin nama gue Garuda. Lo siapa?"
Itu awal mula kita berkenalan. Dia menjabat tanganku erat.
Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Bulan demi bulan berlalu.
Ada yang aneh. Kenapa jantungku jadi berdebar begini? Ah tidak mungkin aku jatuh hati terhadapnya. Dia terlalu sempurna bagiku. Bagaimana bisa gadis sepertiku mendapatkannya? Dia lelaki cerdas. Lihat saja sekolahnya. Dia bersekolah di sekolah ternama. Tidak seperti aku.
Aku pasti sudah gila. Saat dia menghapus tulisannya di bukuku, rasanya aku ingin menggengam tangannya. Aneh. Padahal dia hanya menghapus rumus yang dia salah tulis di bukuku. Dia memang begitu. Sering datang tanpa membawa buku.
Saat beberapa hari sebelum prom night di sekolahnya, aku mendengarnya bicara dengan temannya. "Kita ga boleh bawa cewek dari luar sekolah sih". Aku berharap gadis yang kamu maksud itu aku. Tapi mana mungkin? Ah beruntungnya gadis yang kau taksir itu. Gadis itu beruntung karena memilikimu.
Dia memang lelaki yang baik. Tak sepantasnya aku berharap ada yang lebih di antara kita. Namun semuanya berubah saat hari Rabu.
"Lo mau bareng gue? Gue bawa helm kok buat lo"
Seharusnya aku menjawab iya tapi aku malah meragu.
"Iya lah gue serius nawarin lo. Ayo bareng aja sama gue"
Bodohnya aku. Aku malah menolak ajakannya. Tunggu. Mengapa dia menjadi kaget saat aku mengatakan tidak? Ekspresinya terlihat kecewa saat aku menolak ajakannya. Mengapa dia membawa dua helm? Biasanya dia hanya membawa satu. Apakah dia sengaja untuk pulang bersamaku?
Hari Senin.
Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Temanmu masuk ke kelas dan bilang ke kakak itu kalau kamu sudah diterima di kedinasan. Seketika aku ingin menangis. Tapi hanya bisa aku tahan. Bodoh! Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Aaaaarrrghhh.
Selasa.
Semua teman di kelas membicarakanmu. "Masa gue di chat sama dia trus dia bilang semoga sukses ya". Lalu, teman yang lain pun bercerita kalau mereka di chat olehmu. Aku bingung. Mengapa aku tidak mendapatkan satu pesan pun darimu? Apakah waktu itu saat kau mengajakku pulang bareng adalah tanda perpisahan?
Seharusnya, aku tidak menolak ajakan itu.
Sungguh aku hanya ingin berjumpa denganmu lagi.
0 komentar:
Posting Komentar