Jumat, 26 Februari 2016

Matikan Sosial Media

0 komentar
Akhirnya ada yang sadar juga kalau aku matiin beberapa akun sosial mediaku. Aku memang udah rencanain dari sekitar 2 tahun yang lalu tapi baru aku putuskan saat ini. Ini beberapa alasanku matiin sosmed:

  1. Candu 
          Nah dengan adanya sosmed kita jadi kecanduan sehingga ada yang aneh rasanya kalau ga dibuka. Atau bisa menimbulkan perasaan gelisah saat ga ada yang komentar atau like post kita. Candu terhadap sosmed ini sangat berbahaya karena tanpa kita sadari bisa menyebabkan sakit mata, pusing dan bahkan saraf jari kita kena (jari bergetar sendiri). Parah kan?

     2. Tak Bersyukur
  
          Kita jadi tidak mensyukuri apa yang kita miliki loh. Mulai dari ngeluh ga bisa nongkrong di sini, ga bisa kayak temen-temen yang punya pacar, ga bisa liburan ke sana, ga punya baju brand tertentu dll. Padahal bisa aja kan itu semua bersifat ga sering sedangkan kita yang sering (walaupun bukan ke tempat mahal/punya yang mahal) jadi lupa bersyukur, kita jadi ga bersyukur punya keluarga dan sahabat yang peduli dan sayang, trus bisa menyebabkan kita merasa tak beruntung, tak berguna (misalnya liat status temen yang menang lomba padahal kita yang sering ikut lomba ga pernah menang jadi kayak ngerasa ga bisa banggain ortu) dll. Parahnya saking kuatnya pengaruh sosmed kita bisa memaksa ortu buat beliin barang mahal/pergi ke tempat elit yang sebenarnya ga perlu loh.

    3. Menghabiskan Waktu

        Ngaku deh dengan adanya sosmed kita betah megang hp lama-lama atau natap layar laptop berjam-jam sampai panggilan buat shalat atau panggilan ortu ga kedengaran. Selain dosa kita membuang waktu dengan sia-sia padahal waktu yang terbuang itu bisa digunakan buat belajar, mempelajari hal baru yang berguna buat masa depan dll.

Untuk saat ini itu aja sih alasanku. Meskipun belum lama sih aku matiin sosmednya hehe. Lagian sosmed itu bisa membuat kita jadi penasaran banget sama hidup orang (gebetan/pacar/musuh/teman). Padahal kan ga ada gunanya. Mending fokus buat masa depan aja yuk :)

Jumat, 19 Februari 2016

Seminar UI Student Preneur

0 komentar
Sebenernya aku tau acara ini dari akun Zenius di Line. Disitu ditulis kalau pendirinya Zenius yaitu Kak Sabda PS bakala datang sebagai narasumber. Sebagai pengguna Zenius Xpedia, aku penasaran sama beliau so aku daftar deh. Seminar ini berlangsung tanggal 16 Februari 2016. Acara ini dari pagi sampai jam 5.30 sore di Auditorium FEB UI. Kebayang dong capeknya kayak apa?

Jam 9.30 aku berangkat dari rumah. Sampai di Stasiun UI sekitar jam 10. Setelah ambil tiket, aku masuk ke auditorium. Acara dibuka oleh ketua acara lalu sambutan oleh ketua HIPMI. Selain Kak Sabda, narasumber yang keren menurutku ialah Sandiaga Uno. Mungkin kalau baca namanya ga tau dia siapa tapi kalau udah liat fotonya pasti tau deh hehehe.

Kak Sabda mengisi acara di sesi 3 pada sore hari. Selama menunggu Kak Sabda, aku kedinginan luar biasa! Walaupun terisi 2/3 manusia, AC-nya dingin sekali huuu. Untuk ukuran seminar termasuk murah loh cuma bayar 35 ribu rupiah sudah dapat makan siang, goodie bag, coffe break dan tentunya sertifikat.

Kak Sabda mengisi acara di sesi 3 bersama Karaeng R. Adjie (yang ternyata pengguna Zenius Xpedia dimasa SMA sehingga dia bisa masuk FT UI) dan Joshua Kevin. Karaeng ini lucu loh sebagai narasumber. Dia bilang "Ah saya ga perlulah les di Inten segala. Mendingan pakai Zenius saja. Walaupun cuma online toh saya tembus FT UI juga". Wah pokoknya dari acara ini aku banyak nemuin anak UI yang berhasil karena Zenius.

Di akhir acara aku (alhamdulilah) bisa foto bareng Kak Sabda. Ternyata banyak yang datang ke acara ini karena ada Kak Sabda hahahaha. Banyak juga loh yang foto bareng sama beliau. Terima kasih Kak Sabda doakan aku menjadi mahasiswa UI tahun ini :)

Selasa, 09 Februari 2016

Jadi Penulis

0 komentar
Dari kecil aku udah suka baca. Suka nulisnya sejak SD kelas 2. Yah walaupun pas SD cuma nulis diary sih. Akhirnya pas SMP aku mulai nulis kalimat yang berirama yang pendek. Ternyata pas Mama liat itu puisi. Sejak itu aku bikin blog buat menyalurkan hobiku. Guru di SMP yang paling aku suka itu Bu Hera. Kenapa? Karena dia selalu ngasih tugas nulis mulu hahahaha. Mulai dari nulis cerita liburan, nulis pantun, bikin puisi, bikin kalimat yang ada syaratnya dll wah pokoknya seru deh.

Pas kelas 9 guru Bahasa Indonesiaku yang namanya Bu Mahanik kasih tugas buat nulis cerita. Aku bikin tentang persahabatan. Kalau ga salah sih judulnya Melodi apa gitu. Di kelas ini pula aku nulis cita-citaku sebagai penulis disamping mengobati orang hehe.

Sayangnya pas SMA guru Bahasa Indonesianya ga seasyik pas SMP. Ga disuruh nulis ini itu :(

Pas kuliah untuk pertama kalinya aku share cerpenku di line. Respon dari temen-temen sih katanya kurang bagus. Maklumlah aku susah buat bikin cerpen yang ada percakapannya :(

Udah punya ide sih buat bikin novel tapi sepertinya aku harus banyak belajar lagi biar bagus :)

Senin, 08 Februari 2016

Tapi Ternyata

0 komentar
Dulu saat semua ini baru dimulai aku tak akan mengira jadinya akan begini.
Dulu aku kira hidup ini akan berjalan lancar bak film.
Tapi ternyata............salah besar.
Dari dulu aku mencari sosok yang dapat kujadikan sebagai pengganti Papa.
Dari dulu aku mencari sahabat sejati.
Dari dulu aku mencari apa arti kebahagiaan.

Banyak kenangan yang muncul.
Banyak waktu yag telah terlewat.
Tapi ternyata aku belum menemukan satu pun jawaban atas pertanyaanku.
Mengapa?

Kian hari aku merasa
"Ah sudahlah. Aku menyerah"
Namun aku teringat bahwa aku masih harus mencari jawaban.
Siapakah dia?
Siapakah dia?
Apakah artinya?

Mungkin selama ini aku sudah menemukannya.
Dia sosok yang dapat kujadikan sebagai pelindungku.
Dia sosok sahabat yang selama ini menemaniku.
Kebahagiaan berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayang.

Tapi ternyata....
Masih ada yang kurang di hati ini
Entah apa
Ku sedang mencarinya

Selasa, 02 Februari 2016

Kamu

0 komentar
Masih ingatkah kamu saat pertama kali kita berkenalan?
Kamu menyapaku dengan senyum ramah dan mengulurkan tanganmu. Kamu bertanya namaku, dimana aku bersekolah dan almamater sekolahku yang dulu.

Aku mengenalmu sebagai sosok yang ramah, sopan, sabar dan taat beribadah. Apakah sekarang kamu masih sama?

Semenjak kita berkenalan aku selalu dibuat tertawa oleh leluconmu. Aka tau maksudmu untuk mencairkan suasana "mengantuk" di kelas itu.

Aku hanyalah gadis biasa. Tak mencolok. Tapi jika kamu melihatku terdiam saat yang lain saling mengobrol, kamu pasti bertanya kepadaku hanya untuk membuatku bicara. Aku tau maksudmu baik. Supaya aku tidak begitu diam. Kamu tahu? Baru kamu lelaki yang membuatku seperti itu. Baper? Bukan. Selama ini tidak ada satu orang pun yang mencoba untuk membuatku berbicara karena aku pendiam.

Entah hari ke berapa sejak kita berkenalan. Kamu menyapaku saat kamu makan bersama temanmu. Aku pun menyapamu juga. "Wah ramah sekali dia. Belum pernah aku memiliki teman lelaki yang ramah seperti dia". Ya aku juga tahu kalau kamu bermaksud agar aku nyaman belajar di kelas seperti anak-anak yang lain. Agar aku bisa bercanda seperti yang lainnya.

Ada yang baru aku sadari tentangmu beberapa bulan kemudian. Kamu rajin shalat. Karena aku selalu melihatmu shalat di musholla saat istirahat.

Untuk ukuran lelaki kamu termasuk rajin. Rajin bertanya. Rajin mencatat. Keinginanmu untuk belajar amatlah tinggi. Aku maklum. Secara kamu sekolah di tempat yang bagus pastinya kamu pun dapat semangat yang bagus pula untuk belajar.

Apakah kamu masih ingat?
Saat kamu menawariku untuk pulang denganmu.
"Rif mau bareng ga?"
"Serius nih?"
"Iyalah masa gue bercanda"
"Tapi aku udah minta jemput. Besok aja deh"
"Yah besok gue ga bisa. Kan lo tau sendiri"
"Ya udah deh kapan-kapan aja"
Kamu tak langsung menjawab. Kamu hanya diam beberapa saat dan berkata
"Oh ya udah deh. Gue duluan ya Rif"
Kamu harus tahu bahwa itu hal yang paling aku sesalkan.

Beberapa hari kemudian temanmu bilang bahwa kamu tak bakal datang lagi karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Ya aku senang mendengarnya tapi pada saat yang sama aku ingin menangis. "Kenapa kamu ga bilang sih?!. Ah betapa bodohnya diriku. Padahal itu saat terakhir aku melihatmu" kataku dalam hati.

Sesampainya di rumah, aku menangis. Menangis karena kebodohanku. Kenapa kamu tak mengucapkan salam perpisahan? Apakah kamu waktu itu terdiam karena kamu sadar kalau "kapan-kapan" berarti tak ada waktu lagi? Aku heran mengapa aku menangisi kepergianmu.

Selang beberapa saat kemudian, aku menghubungimu lewat chat. Dari situ aku tahu kabarmu. Saat kamu bertanya dimana aku melanjutkan pendidikan dan aku menjawab tidak tahu kamu menulis
"Berjuang Rif, semoga Allah memberikan yang terbaik. Jangan putus asa". Saat itu juga tersenyum. Mengusap air mataku. Air mata karena kegagalanku entah untuk yang ke sekian kalinya.

Aku heran kenapa orang-orang menganggapmu berada di X. Padahal kamu bilang di Y. Aku pun ragu. Aku mencoba untuk minta klarifikasimu. Namun kamu hanya menjawab seperti yang orang-orang bilang. Aku pun teringat bahwa dulu dalam percakapan kita di chat kamu menulis "Ini buat lo doang Rif. Cuma lo doang yang gua kasih tau sejujurnya. Rahasia aja Rif". Oh Rifa sesungguhnya dia sudah mempercayaimu tapi kenapa kamu tak mempercayainya?!

Hari demi hari berlalu.
Bulan demi bulan berlalu.
Aku masih belum bisa mengenyahkanmu dari pikiranku. Padahal bisa dibilang kamu tidak lagi hadir dalam kehidupanku. Tapi kamu hampir selalu muncul di mimpiku. Ah apa mungkin selama ini kamu muncul di mimpiku karena khayalanku tentangmu begitu kuat? Atau karena dirimu menyimpan banyak misteri?

Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku. Padahal aku tahu kamu sungguh berbahaya. Berbahaya untuk berada di dekatmu.

Karena kamu "Berani tidak dikenal, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki dan mati tak diakui".

Takut.
Takut pendidikan itu mengubahmu. Mengubah jati dirimu. Mengubahmu menjadi sesosok baru yang tidak ku kenal.

Aku berharap kamu dapat mengatasi ketakutan dan rintangan yang kamu hadapi. Semoga saat kita bertemu kamu tidak melupakanmu.

Tertanda
Gadis Yang Merindukanmu



 

Reach Your Dreams! :D Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template