Masih ingatkah kamu saat pertama kali kita berkenalan?
Kamu menyapaku dengan senyum ramah dan mengulurkan tanganmu. Kamu bertanya namaku, dimana aku bersekolah dan almamater sekolahku yang dulu.
Aku mengenalmu sebagai sosok yang ramah, sopan, sabar dan taat beribadah. Apakah sekarang kamu masih sama?
Semenjak kita berkenalan aku selalu dibuat tertawa oleh leluconmu. Aka tau maksudmu untuk mencairkan suasana "mengantuk" di kelas itu.
Aku hanyalah gadis biasa. Tak mencolok. Tapi jika kamu melihatku terdiam saat yang lain saling mengobrol, kamu pasti bertanya kepadaku hanya untuk membuatku bicara. Aku tau maksudmu baik. Supaya aku tidak begitu diam. Kamu tahu? Baru kamu lelaki yang membuatku seperti itu. Baper? Bukan. Selama ini tidak ada satu orang pun yang mencoba untuk membuatku berbicara karena aku pendiam.
Entah hari ke berapa sejak kita berkenalan. Kamu menyapaku saat kamu makan bersama temanmu. Aku pun menyapamu juga. "Wah ramah sekali dia. Belum pernah aku memiliki teman lelaki yang ramah seperti dia". Ya aku juga tahu kalau kamu bermaksud agar aku nyaman belajar di kelas seperti anak-anak yang lain. Agar aku bisa bercanda seperti yang lainnya.
Ada yang baru aku sadari tentangmu beberapa bulan kemudian. Kamu rajin shalat. Karena aku selalu melihatmu shalat di musholla saat istirahat.
Untuk ukuran lelaki kamu termasuk rajin. Rajin bertanya. Rajin mencatat. Keinginanmu untuk belajar amatlah tinggi. Aku maklum. Secara kamu sekolah di tempat yang bagus pastinya kamu pun dapat semangat yang bagus pula untuk belajar.
Apakah kamu masih ingat?
Saat kamu menawariku untuk pulang denganmu.
"Rif mau bareng ga?"
"Serius nih?"
"Iyalah masa gue bercanda"
"Tapi aku udah minta jemput. Besok aja deh"
"Yah besok gue ga bisa. Kan lo tau sendiri"
"Ya udah deh kapan-kapan aja"
Kamu tak langsung menjawab. Kamu hanya diam beberapa saat dan berkata
"Oh ya udah deh. Gue duluan ya Rif"
Kamu harus tahu bahwa itu hal yang paling aku sesalkan.
Beberapa hari kemudian temanmu bilang bahwa kamu tak bakal datang lagi karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Ya aku senang mendengarnya tapi pada saat yang sama aku ingin menangis. "Kenapa kamu ga bilang sih?!. Ah betapa bodohnya diriku. Padahal itu saat terakhir aku melihatmu" kataku dalam hati.
Sesampainya di rumah, aku menangis. Menangis karena kebodohanku. Kenapa kamu tak mengucapkan salam perpisahan? Apakah kamu waktu itu terdiam karena kamu sadar kalau "kapan-kapan" berarti tak ada waktu lagi? Aku heran mengapa aku menangisi kepergianmu.
Selang beberapa saat kemudian, aku menghubungimu lewat chat. Dari situ aku tahu kabarmu. Saat kamu bertanya dimana aku melanjutkan pendidikan dan aku menjawab tidak tahu kamu menulis
"Berjuang Rif, semoga Allah memberikan yang terbaik. Jangan putus asa". Saat itu juga tersenyum. Mengusap air mataku. Air mata karena kegagalanku entah untuk yang ke sekian kalinya.
Aku heran kenapa orang-orang menganggapmu berada di X. Padahal kamu bilang di Y. Aku pun ragu. Aku mencoba untuk minta klarifikasimu. Namun kamu hanya menjawab seperti yang orang-orang bilang. Aku pun teringat bahwa dulu dalam percakapan kita di chat kamu menulis "Ini buat lo doang Rif. Cuma lo doang yang gua kasih tau sejujurnya. Rahasia aja Rif". Oh Rifa sesungguhnya dia sudah mempercayaimu tapi kenapa kamu tak mempercayainya?!
Hari demi hari berlalu.
Bulan demi bulan berlalu.
Aku masih belum bisa mengenyahkanmu dari pikiranku. Padahal bisa dibilang kamu tidak lagi hadir dalam kehidupanku. Tapi kamu hampir selalu muncul di mimpiku. Ah apa mungkin selama ini kamu muncul di mimpiku karena khayalanku tentangmu begitu kuat? Atau karena dirimu menyimpan banyak misteri?
Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku. Padahal aku tahu kamu sungguh berbahaya. Berbahaya untuk berada di dekatmu.
Karena kamu "Berani tidak dikenal, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki dan mati tak diakui".
Takut.
Takut pendidikan itu mengubahmu. Mengubah jati dirimu. Mengubahmu menjadi sesosok baru yang tidak ku kenal.
Aku berharap kamu dapat mengatasi ketakutan dan rintangan yang kamu hadapi. Semoga saat kita bertemu kamu tidak melupakanmu.
Tertanda
Gadis Yang Merindukanmu
Kamu menyapaku dengan senyum ramah dan mengulurkan tanganmu. Kamu bertanya namaku, dimana aku bersekolah dan almamater sekolahku yang dulu.
Aku mengenalmu sebagai sosok yang ramah, sopan, sabar dan taat beribadah. Apakah sekarang kamu masih sama?
Semenjak kita berkenalan aku selalu dibuat tertawa oleh leluconmu. Aka tau maksudmu untuk mencairkan suasana "mengantuk" di kelas itu.
Aku hanyalah gadis biasa. Tak mencolok. Tapi jika kamu melihatku terdiam saat yang lain saling mengobrol, kamu pasti bertanya kepadaku hanya untuk membuatku bicara. Aku tau maksudmu baik. Supaya aku tidak begitu diam. Kamu tahu? Baru kamu lelaki yang membuatku seperti itu. Baper? Bukan. Selama ini tidak ada satu orang pun yang mencoba untuk membuatku berbicara karena aku pendiam.
Entah hari ke berapa sejak kita berkenalan. Kamu menyapaku saat kamu makan bersama temanmu. Aku pun menyapamu juga. "Wah ramah sekali dia. Belum pernah aku memiliki teman lelaki yang ramah seperti dia". Ya aku juga tahu kalau kamu bermaksud agar aku nyaman belajar di kelas seperti anak-anak yang lain. Agar aku bisa bercanda seperti yang lainnya.
Ada yang baru aku sadari tentangmu beberapa bulan kemudian. Kamu rajin shalat. Karena aku selalu melihatmu shalat di musholla saat istirahat.
Untuk ukuran lelaki kamu termasuk rajin. Rajin bertanya. Rajin mencatat. Keinginanmu untuk belajar amatlah tinggi. Aku maklum. Secara kamu sekolah di tempat yang bagus pastinya kamu pun dapat semangat yang bagus pula untuk belajar.
Apakah kamu masih ingat?
Saat kamu menawariku untuk pulang denganmu.
"Rif mau bareng ga?"
"Serius nih?"
"Iyalah masa gue bercanda"
"Tapi aku udah minta jemput. Besok aja deh"
"Yah besok gue ga bisa. Kan lo tau sendiri"
"Ya udah deh kapan-kapan aja"
Kamu tak langsung menjawab. Kamu hanya diam beberapa saat dan berkata
"Oh ya udah deh. Gue duluan ya Rif"
Kamu harus tahu bahwa itu hal yang paling aku sesalkan.
Beberapa hari kemudian temanmu bilang bahwa kamu tak bakal datang lagi karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Ya aku senang mendengarnya tapi pada saat yang sama aku ingin menangis. "Kenapa kamu ga bilang sih?!. Ah betapa bodohnya diriku. Padahal itu saat terakhir aku melihatmu" kataku dalam hati.
Sesampainya di rumah, aku menangis. Menangis karena kebodohanku. Kenapa kamu tak mengucapkan salam perpisahan? Apakah kamu waktu itu terdiam karena kamu sadar kalau "kapan-kapan" berarti tak ada waktu lagi? Aku heran mengapa aku menangisi kepergianmu.
Selang beberapa saat kemudian, aku menghubungimu lewat chat. Dari situ aku tahu kabarmu. Saat kamu bertanya dimana aku melanjutkan pendidikan dan aku menjawab tidak tahu kamu menulis
"Berjuang Rif, semoga Allah memberikan yang terbaik. Jangan putus asa". Saat itu juga tersenyum. Mengusap air mataku. Air mata karena kegagalanku entah untuk yang ke sekian kalinya.
Aku heran kenapa orang-orang menganggapmu berada di X. Padahal kamu bilang di Y. Aku pun ragu. Aku mencoba untuk minta klarifikasimu. Namun kamu hanya menjawab seperti yang orang-orang bilang. Aku pun teringat bahwa dulu dalam percakapan kita di chat kamu menulis "Ini buat lo doang Rif. Cuma lo doang yang gua kasih tau sejujurnya. Rahasia aja Rif". Oh Rifa sesungguhnya dia sudah mempercayaimu tapi kenapa kamu tak mempercayainya?!
Hari demi hari berlalu.
Bulan demi bulan berlalu.
Aku masih belum bisa mengenyahkanmu dari pikiranku. Padahal bisa dibilang kamu tidak lagi hadir dalam kehidupanku. Tapi kamu hampir selalu muncul di mimpiku. Ah apa mungkin selama ini kamu muncul di mimpiku karena khayalanku tentangmu begitu kuat? Atau karena dirimu menyimpan banyak misteri?
Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku. Padahal aku tahu kamu sungguh berbahaya. Berbahaya untuk berada di dekatmu.
Karena kamu "Berani tidak dikenal, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki dan mati tak diakui".
Takut.
Takut pendidikan itu mengubahmu. Mengubah jati dirimu. Mengubahmu menjadi sesosok baru yang tidak ku kenal.
Aku berharap kamu dapat mengatasi ketakutan dan rintangan yang kamu hadapi. Semoga saat kita bertemu kamu tidak melupakanmu.
Tertanda
Gadis Yang Merindukanmu
0 komentar:
Posting Komentar