Sabtu, 05 November 2016

Perang Bulan dan Matahari

0 komentar
Matahari selalu bertentangan dengan Bulan. Atau mungkin mereka hanya bertukar peran? Peran untuk membuat para manusia menentukan jadwal kegiatan.

Entahlah aku tidak tahu. Tapi setahuku mereka sering berperang. Bukan perang fisik melainkan perang batin.

Yang akan aku tulis ini bukan Bulan dan Matahari yang berada di langit. Tapi ini Bulan dan Matahari yang menginjakkan kaki di bumi.

*************

Seperti malam-malam sebelumnya, Matahari membuka WhatsApp-nya melihat lelaki itu online atau tidak. Matahari senang saat melihat lelaki itu ternyata online. Dia tersenyum. Sungguh ia rindu sekali dengan lelaki itu. Dia ingin chat dengannya namun, dia ragu. Pikirannya berkecamuk.
"Bagaimana kalau ternyata aku mengganggunya?"
"Bagaimana kalau aku dianggap perempuan murahan karena menanyakan kabarnya?"
"Apakah dia baik-baik saja di sana?"
"Mengapa dia sering online akhir-akhir ini? Bukankah seharusnya dia belajar?"
Dan akhirnya seperti malam-malam sebelumnya. Matahari hanya meletakkan kembali hp-nya di meja dan tidur. Berharap suatu saat nanti dia terbangun dengan melihat chat dari lelaki itu.

Keesokan harinya, Matahari pergi ke kampus. Dia sudah bersiap untuk UTS hari ini. Dia memantapkan langkahnya saat membuka kelas ujian. Dia tersenyum lebar saat nilai UTS keluar. Walaupun nilainya bagus, Matahari tidak terlalu gembira. Bukan karena lelaki itu, tapi karena hasratnya untuk dapat kuliah di jurusan yang dia minati harus pupus.

Berbulan-bulan setelahnya, Matahari tetap mendapatkan nilai seperti itu. Namun tatapan matanya tak lagi menyiratkan kebahagiaan.

***
Bulan lelah. Dia ingin tidur secepatnya. Tapi masih ada tugas yang harus dia kerjakan. Saat dia membaringkan tubuh di tempat tidurnya, dia menyempatkan diri untuk melihat hp-nya. Ternyata banyak pesan masuk. Dia membacanya satu per satu. "Ah sebentar lagi akhirnya aku bisa pulang ke rumah walaupun hanya 2 minggu" serunya dalam hati. Dia dan teman-temannya sama. Merindukan keluarga mereka. Tapi Bulan bukan hanya merindukan keluarganya tapi juga merindukan seorang perempuan. Bulan membuka kontak WhatsApp-nya dan melihat perempuan itu terakhir kali online 2 menit yang lalu.
"Ah hampir saja aku melihatnya online". Bulan hanya tersenyum sedih melihatnya.

Di kampus itu, Bulan termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi. Ya tentu saja begitu. Itu semua karena tatapan tajam ayahnya. Semenjak kelas 12, saat Bulan menentukan ingin melanjutkan pendidikan kemana, ayahnya menolak usulan Bulan. Ayahnya ingin Bulan seperti dirinya. Dalam hati Bulan takut dengan tatapan tajam ayahnya itu. Bulan meng-iya-kan usulan ayahnya agar dia tidak perlu melihat tatapan itu lagi.

Bulan membatin saat tahun pertama bahkan dia menangis. Dia tidak terbiasa dengan olahraga yang keras bahkan dengan pukulan yang diterimanya setiap kali dia melakukan kesalahan.



***
Minggu ke 3 Matahari libur, ia jalan-jalan ke taman baru yang ada di kotanya. Dia bosan hanya berada di rumah terus. Ia membeli es krim dan memakannya sambil duduk di ayunan. Saat sudah menghabiskan separuh es krimnya, ia mendengar suara siulan.
"Seperinya aku kenal dengan siulan ini. Seperi siulan...."
Seketika dia kaget saat ada orang yang menepuk pundaknya.
"Matahari?"
"Bulan? Aku pikir kamu belum pulang"
"Hahahaha segitu sibuknya kah menurutmu sampai aku belum pulang?"
"Kamu kan jadwal liburnya agak beda dengan kampus lain"
"Iya sih hahaha"

Matahari tersenyum. Begitu pula dengan Bulan. Senyum yang bukan hanya ada di bibir mereka tapi juga di hati mereka yang selama ini tertutup dengan kesedihan. Mereka lantas saling bercerita kehidupan di kampus masing-masing. Mereka saling tahu kalau ternyata selama ini mereka juga saling tidak suka dengan jurusan mereka saat ini. Mereka saling menyemangati satu sama lain.
"Walaupun kita ga suka bukan berarti kita ga bisa ya kan?"
"Iya Bulan kamu benar"

Setelah itu, Bulan mengantar Matahari ke rumahnya. Dalam hati Bulan dia sangat senang sekali dengan hari ini. Karena akhirnya dia bisa bertemu dengan perempuan yang dia nantikan. Begitu pun dengan Matahari.





***

Itu hanyalah kisah perang antara Bulan dan Matahari dalam kehidupannya sebagai mahasiswa yang kuliah di bidang yang bukan mereka minati. So kalian yang seperti mereka akankah menyerah?
 

Reach Your Dreams! :D Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template